Di desa baru suku Sinto, kehidupan perlahan-lahan mulai stabil. Rumah-rumah baru sudah dibangun dengan bahan-bahan sederhana namun kokoh, ladang kecil mulai ditanami, dan para penduduk bekerja sama untuk menciptakan suasana yang lebih baik. Namun, tidak semua berjalan mulus.

Sherly, yang sejak awal memiliki sifat egois, mulai menunjukkan sikap yang membuat banyak penduduk merasa tidak nyaman. Berkat kedekatannya dengan Lynx, ia merasa memiliki otoritas lebih dibandingkan orang lain.

Pagi itu, di tengah lapangan desa, Sherly berdiri dengan tangan di pinggang, memarahi seorang pria tua yang tengah bekerja membangun pagar. "Kenapa lambat sekali? Apa kau tidak tahu kalau pagar ini sangat penting? Jika Monrest menyerang, apa yang akan kita lakukan?!"

Pria tua itu menunduk, mengusap keringatnya. "Maaf, Sherly. Aku sudah berusaha semampuku..."

"Sherly? Panggil aku dengan Nona Sherly! Seperti itu kamu bilang berusaha? Itu alasan orang lemah! Kalau kau tidak bisa melakukan tugas ini dengan benar, biar aku yang menggantikanmu!" teriak Sherly dengan nada angkuh. Dia ingin orang-orang menghormati dan menurutinya.

Leena, yang sedang membawa keranjang buah dari kebun, mendengar keributan itu dan langsung menghampiri. "Sherly! Kenapa kau bicara seperti itu kepada Pak Yadi? Dia sudah tua, jangan memaksanya seperti itu."

Sherly menoleh dengan ekspresi sinis. "Oh, jadi sekarang kau ingin membelanya, Leena? Kalau kau pikir kau bisa melakukan lebih baik, kenapa tidak kau saja yang kerja?"

Leena mendesah, berusaha menahan amarahnya. "Kita semua di sini bekerja sama. Tidak perlu memarahi orang seperti itu."

Sherly mendengus. "Aku hanya mencoba memastikan semuanya berjalan dengan benar. Jika itu membuatku terlihat jahat, aku tidak peduli."

Penduduk sekitar mulai berbisik-bisik, beberapa dari mereka menunjukkan ketidaknyamanan atas sikap Sherly.

Di malam harinya, Sherly masuk ke dapur umum tempat beberapa wanita sedang memasak untuk makan malam bersama. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap masakan yang sedang dibuat dengan ekspresi tidak puas.

"Apa ini?" tanyanya, menunjuk ke panci besar berisi sup sederhana. "Kalian pikir ini cukup untuk kita semua? Apa kalian tidak bisa membuat sesuatu yang lebih baik?"

Seorang wanita muda yang sedang mengaduk sup menjawab dengan nada pelan. "Ini semua bahan yang kita punya, Nona Sherly. Kami berusaha semaksimal mungkin."

Sherly memutar matanya. "Berusaha? Itu lagi-lagi alasan orang malas. Kalau kalian tidak tahu cara memasak, biar aku saja yang mengurusnya."

Wanita-wanita di dapur mulai menundukkan kepala, takut memperdebatkan perkataan Sherly.

Leena, yang baru masuk ke dapur, menyaksikan adegan itu. "Sherly, cukup! Mereka sudah melakukan yang terbaik. Kalau kau tidak suka, kau bisa masak sendiri."

Sherly menatap Leena dengan tajam. "Oh, kau selalu muncul di saat yang tepat untuk menjadi pahlawan, ya, Leena? Kau pikir kau lebih baik dariku?"

Leena tidak menjawab, hanya menatap Sherly dengan tajam sebelum pergi, meninggalkan suasana tegang di dapur.

Sementara itu perjalanan Lynx dan rombongan menuju desa Sinto berlangsung tanpa banyak gangguan selama beberapa hari. Mereka melintasi hutan yang semakin lebat, pohon-pohon besar menjulang, dan suara burung serta serangga menjadi latar alami. Lynx memimpin di depan dengan Narendra dan Arkha di belakangnya, sementara Rira berjalan dengan Kanha yang terus menceritakan kisah-kisah lucu untuk menghibur semua orang.

Namun, ketenangan itu terpecahkan ketika mereka mendengar suara teriakan melengking yang memecah keheningan hutan.

"Tolong! Tolong kami!"

Lynx segera mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua berhenti. "Kalian dengar itu?"

Arkha mengangguk dengan ekspresi serius. "Dari arah sana," katanya sambil menunjuk ke timur.

Mereka bergegas menuju suara itu, melompati akar-akar pohon besar dan menghindari semak belukar. Ketika mereka tiba di sebuah area terbuka kecil, mereka melihat seekor macan besar melingkar, menggeram rendah. Di depannya, seorang wanita memeluk erat seorang anak kecil, mencoba melindunginya.

Mata macan itu berkilat, siap menyerang kapan saja.

"Jangan mendekat!" teriak wanita itu dengan suara putus asa, melihat kelompok Lynx.

Namun, Kanha yang pertama berbicara, "Kita tidak mungkin membiarkan mereka dimakan, Kak Lynx!"

"Diam, Kanha," ujar Narendra, memegang tombaknya dengan kuat.

Lynx maju perlahan, mengangkat tangannya. "Tenang, aku akan mengurus ini."

Wanita itu gemetar, matanya membesar melihat Lynx yang mendekat tanpa senjata. "Kau... kau akan mati! Macan itu akan membunuhmu!"

Lynx hanya menoleh sekilas, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Tenang saja! Dia tidak akan bisa melukaiku."

Macan itu menatap Lynx, menggeram semakin keras. Lynx berhenti beberapa meter dari hewan itu, menatap balik dengan tenang. Tubuhnya sedikit menunduk, tangan terangkat untuk menunjukkan bahwa ia tidak berbahaya.

"Kau sedang lapar, ya?" bisik Lynx pelan.

Arkha memutar matanya dari belakang. "Apa Lynx juga bisa bicara dengan macan sekarang?"

"Dia kan punya banyak rahasia," gumam Kanha, tapi matanya terpaku pada adegan di depannya.

Lynx melangkah maju perlahan, mencoba menjaga perhatian macan itu padanya. "Dengar, kau tidak perlu menyerang mereka. Kau hanya melindungi wilayahmu, aku tahu. Tapi ada banyak makanan di hutan ini yang tidak perlu membuatmu membunuh manusia."

Macan itu melengkungkan punggungnya, siap menyerang. Lynx hanya tersenyum kecil dan dalam sekejap, ia melompat ke samping, menghindari serangan pertama.

Wanita itu menjerit, memeluk anaknya lebih erat.

Kanha melompat-lompat sambil berteriak, "Hebat! Hebat! Kak Lynx cepat sekali!"

Arkha memegang tombaknya, siap membantu. "Kau yakin dia tidak butuh bantuan?" tanyanya pada Narendra.

Narendra menggeleng, meskipun wajahnya tampak ragu. "Kalau Lynx butuh, dia pasti akan bilang. Selain itu, kami sudah terbiasa melihatnya. Dia menganggap binatang buas itu seolah binatang kecil yang imut."

Lynx terus menghindari serangan-serangan macan itu dengan gerakan cepat dan ringan. Setiap kali hewan itu melompat, ia melangkah mundur atau ke samping, membuat macan itu semakin frustasi.

"Ayo, kau lebih baik dari ini," ujar Lynx dengan nada menenangkan, sambil memutar sedikit tubuhnya untuk memancing perhatian macan itu.

Setelah beberapa menit, macan itu tampak kelelahan. Napasnya memburu, dan geramannya semakin pelan. Lynx melangkah maju sekali lagi, hingga ia berada tepat di depan hewan itu.

"Pergilah," kata Lynx dengan suara rendah tapi tegas.

Macan itu menatapnya untuk beberapa detik sebelum akhirnya berbalik dan berjalan perlahan ke arah hutan, hilang di balik pepohonan.

Wanita itu menangis lega, memeluk anaknya erat-erat. "Terima kasih... terima kasih... siapapun kau, terima kasih!"

Lynx mendekati mereka, menunduk sedikit agar tampak lebih ramah. "Kalian baik-baik saja?"

Anak kecil itu mengangguk, meskipun wajahnya masih penuh ketakutan. Wanita itu menyeka air matanya, mencoba berdiri meskipun tubuhnya gemetar.

"Kami... kami terpisah dari rombongan kami. Kami sedang melarikan diri dari serangan perampok," jelas wanita itu, suaranya masih gemetar. "Mereka menangkap hampir semua orang. Sepertinya teman-teman kami dibawanya ke tempat mereka."

Narendra maju, wajahnya penuh perhatian. "Rombongan kalian? Berapa banyak orang?"

"Sekitar lima orang," jawab wanita itu. "Kami awalnya berasal dari suku Yaksa, tapi kami memisahkan diri dan membangun tempat tinggal sendiri."

Rira yang berada di belakang berbisik pada Arkha. "Ternyata mereka dari suku Yaksa, bukankah Lynx juga sedang mencari suku Yaksa?."

Arkha mengangguk. "Ini kesempatan bagus untuk mendapatkan petunjuk keberadaan suku Yaksa. Mereka selalu berpindah tempat sehingga sulit menemukan mereka."

Lynx membantu wanita itu berdiri. "Kalian bersama kami sekarang. Kami akan melindungi kalian sampai kalian aman."

Wanita itu terdiam sejenak, menatap Lynx dengan mata penuh rasa terima kasih. "Kalian telah menyelamatkan kami, Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalasmu..."

Lynx mengangguk dengan tenang. "Tidak perlu berterima kasih. Yang terpenting sekarang adalah memastikan kalian aman." Ia menatap wanita itu dengan sorot mata yang menenangkan. "Nanti kami akan membantu menemukan teman kalian. Ikutlah bersama kami, kami akan melindungi kalian."

Lynx lalu menoleh ke arah yang lain. "Arkha, Rira, bantu mereka berjalan. Kita harus kembali untuk mengatur rencana agar perjalanan tetap lancar, dan juga menolong mereka." Ia kembali menatap wanita itu. "Kami akan membawa kalian ke tempat yang aman."
